Mar 16

Akhirnya saiya menyerah. Daripada dibilang g nasionalis mendingan saiya nulis blog pake mode billing ual aja deh. Maksudnya klo lagi pengen nulis pake boso linggis, ya tak tulis pake boso linggis, klo pengen make bahasa indon (katanya orang2 malingsia), ya make bahasa indon.

Sebenernya ngga ada yang penting yang mau kuceritain sih. Tapi berhubung blog nya udah vakum berhari hari (atau berminggu minggu?), tetap harus ada yang ditulils. Tul nda? Keinget juga si, kata katanya seseorang (entah siapa, lupa, ada yang tahu?) yang bilang kalo “Sampaikanlah, walau hanya satu ayat”. Mangkanya, karena itu saiya sampaikan, walau hanya satu ayat.

Kemaren saiya sempat sakit 1 minggu. G enak pek, sakit tu, yaqin, g direkomendasikan wis. Karena tempat saya training tidak bisa memberikan ijin sakit loyalitas saiya pada perusahaan sangat tinggi, saiya paksakan untuk masuk training. Kronologisnya begini. Duh sek gatel, tak kukur kukur dulu.

Tanggal 29 Feb, karena di kosan g ada mainan (baca: komputer), akhirnya kuputuskan untuk menempuh perjalanan panjang sejauh jarak antara mipa selatan dengan parsley di jakal. Sebenernya bisa aja naek metromini, yang full AC (Angin Cendela) dan full Music (bob marley ala blok m), tapi gara garanya saiya lagi pengen olahraga (baca: pengen ngirit), akhirnya diputuskan untuk menempuh perjalanan mencari kitab suci hiburan malam dengan berjalan kaki.

Read the rest of this entry »